Online

Thursday, February 4, 2010

REDUPLIKASI/ KATA ULANG

Redupilikasi atau sering disebut kata ulang adalah pengulangan kata. Adapun macam dan maknanya seperti di bawah ini.

Macam-Macam Kata ulang:

1. Kata ulang berimbuhan atau kata ulang sebagian, yaitu bentuk pengulangan kata dengan mendapat awalan, sisipan, akhiran atau gabungan imbuhan sebelum atau sesudah kata dasarnya diulang.
Contoh :- berlari-lari - bermain-main- menari-nari - hormat-menghormati- bunga-bungaan - kekanak-kanakan

2. Kata ulang berubah bunyi atau bervariasifonem, baik vokal maupun konsonan.
Contoh :- lauk-pauk- serta-merta- warna-warni- gerak-gerik- mondar-mandir

3.Kata ulang suku awal atau dwipurwa, yaitubentuk pengulangan suku pertama katadasarnya, biasanya disertai variasi e pepet.
Contoh :- lelaki laki-laki ~ lalaki ~ lelakiè- sesamaè sama-sama ~ sasama ~ sesama- tetangga tangga-tangga ~ tatangga ~è tetangga

4. Selain bentuk kata ulang di atas, terdapat kataulang semu atau kata dasar berulang.
Contoh :- cumi-cumi - paru-paru- laba-laba - pura-pura- biri-biri - kura-kura- kupu-kupu- kunang-kunang
Makna kata ulang

1. Menyatakan banyak tak tentu.Contoh :- gunung-gunung- daerah-daerah- gerak-gerik- rumah-rumah- pepohonan

2. Menyatakan sangat.Contoh :- rajin-rajin - besar-besar- kuat-kuat - manis-manis

3. Menyatakan saling, berbalasan ataupekerjaan dilakukan oleh dua pihak.Contoh :- kunjung-mengunjungi- tuduh-menuduh- tolong-menolong

4. Menyatakan paling atau intensitas.Contoh :- sebaik-baiknya- setinggi-tingginya- sebanyak-banyaknya

5. Menyatakan tiruan atau menyerupai.Contoh :- orang-orangan- siku-siku- rumah-rumahan

6. Menyatakan bersenang-senang atau santai.Contoh :- duduk-duduk - minum-minum- membaca-baca - tidur-tiduran- berjalan-jalan - berbaring-baring

7. Menyatakan dikenai sifat atau agak.Contoh :- kebarat-baratan- kemalu-maluan- kehijau-hijauan

8. Menyatakan himpunan pada kata bilangan.Contoh :- dua-dua- lima-lima- banyak-banyak

9. Menyatakan agak….(melemahkan arti).Contoh :- Kepala pening-pening.- Badan sakit-sakit.- Jangan malu-malu.

10. Menyatakan beberapa.Contoh :- bertahun-tahun ia menunggu.- berhari-hari ia menanti.

11. Menyatakan terus-menerus.Contoh :- bertanya-tanya- mencari-cari

12. Menyatakan waktu.Contoh :- Pagi-pagi minum es.- Datang-datang marah.

13. Menyatakan makin atau bertambah.Contoh :- Lama-lama ia pingsan.- Meluap-luap amarahnya.

14. Menyatakan berusaha … atau penyebab.Contoh :- menyabar-nyabarkan diri.- menguat-nguatkan hati.- menahan-nahan amarah.
read more...

CARA MENULIS DAFTAR PUSTAKA

Daftar Pustaka sering disebut juga Bibliografi atau daftar sumber referensi atau bacaaan. Daftar pustaka meliputi sumber bahan-bahan yang dipakai dalam menyusun
Karya Tulis Ilmiah. Daftar ini memberikan kepada pembaca suatu indikasi terbatas
mengenai informasi, fakta, atau pengetahuan yang berkaitan dengan permasalahan yang
dibahas.

Pedoman Penyusunan dan Pengujian Karya Tulis Ilmiah

Ketentuan-ketentuan pokok yang menyangkut penggunaan daftar pustaka adalah:

a. Daftar pustaka hanya meliputi acuan yang benar-benar dipakai dalam penyusunan
Karya Tulis Ilmiah, yaitu yang dikutip dalam catatan kaki.

b. Sumber-sumber yang benar berkaitan boleh dimasukkan, tetapi yang tidak
mempunyai nilai dalam penyusunan dapat tidak dimasukkan walaupun sumbersumber
tersebut diteliti atau dibaca.

Pada dasarnya informasi yang dimasukkan dalam daftar pustaka adalah serupa
dengan catatan kaki. Perbedaannya hanya terletak pada urutan dan tanda baca. Bentuk
penyajian daftar pustaka adalah sebagai berikut:

a. Disusun secara berurutan menurut abjad dari nama belakang penulis.

b. Baris pertama ditulis dari marjin kiri, sedang baris-baris berikutnya dituliskan menjorok
pada ketukan keenam.

c. Jarak baris untuk setiap entri atau acuan adalah satu spasi, sedangkan jarak antaracuan
adalah dua spasi.

Pengaturan penyajian daftar pustaka untuk buku-buku teks adalah sebagai
berikut:

a. Nama pengarang: nama belakang diikuti dengan nama depan dan tengah yang
diakhiri dengan titik. Jika pengarang lebih dari satu, hanya nama pengarang pertama
yang disusun sesuai dengan ketentuan tersebut.

b. Tuliskan nama pengarang selengkap mungkin, hindari penyingkatan kecuali sumber
yang bersangkutan menggunakan nama singkatan.

c. Jika dalam daftar pustaka terdapat lebih dari satu sumber dari pengarang yang sama,
jangan ulangi penulisan nama pengarang yang bersangkutan, tetapi digunakan garis
sepanjang 12 ketukan dari marjin kiri yang diikuti dengan titik.

d. Gunakan garis bawah untuk judul buku atau tanda kutip untuk bagian buku yang
diambil sebagaimana dalam penulisan catatan kaki. Akhiri judul buku dengan titik.

e. Nama penyunting atau penerjemah ditulis dengan “Peny.” Atau “Penerj.” Dapat pula
ditulis lengkap.

f. Tuliskan nomor edisi, kecuali edisi pertama, dengan menggunakan huruf arab (misal
edisi ke-2) tanpa diikuti oleh tanda baca apa pun.

g. Nama seri dituliskan tanpa tanda kutip dan tidak digarisbawahi, diikuti dengan koma,
diikuti dengan nomor seri yang bersangkutan dengan angka arab (misal Volume 3,
No. 3, atau hanya 3), dan diakhiri dengan titik.

h. Tempat, penerbit, dan tanggal penerbitan, diikuti dengan titik. Jika terdapat beberapa
tempat penerbitan, gunakan tempat pertama. Demikian pula, jika ada beberapa
tanggal/tahun penerbitan, gunakan tanggal/tahun yang terakhir, kecuali studi yang
dilakukan secara khusus berhubungan dengan edisi yang sebelumnya.

i. Nomor halaman dituliskan dengan angka arab, didahului dengan koma dan diikuti
dengan titik.

Pengaturan penyajian daftar pustaka untuk majalah/jurnal berkala adalah serupa
dengan penulisan dalam catatan kaki, kecuali tiga hal berikut:

Pedoman Penyusunan dan Pengujian Karya Tulis Ilmiah

a. Nama pengarang ditulis dari marjin kiri, tanpa nomor, dan untuk baris kedua dan
seterusnya dituliskan menjorok lima ketukan. Nama dituliskan dengan urutan terbalik
yang diakhiri dengan titik.

b. Judul diakhiri dengan titik (bukan koma).

c. Nomor halaman diberikan untuk seluruh halaman yang memuat artikel yang
bersangkutan, bukan hanya nomor halaman yang dikutip.

Pengaturan penyajian daftar pustaka untuk dokumen publik dan sumber-sumber
lain adalah sebagaimana telah dikemukakan dalam pembahasan mengenai catatan kaki,
karena cokumen publik ini sangan bervariasi, maka bentuk penulisan dalam daftar
pustaka tidak bisa dibakukan. Hal terpenting adalah kecukupan informasi bagi pembaca.

Contoh:
Basalamah, Anies S. Audit Sampling: Teori dan Aplikasi. Jakarta: STANProdip
Press, 1994.

________. Metode Riset untuk Mahasiswa. Jakarta: STAN, 1995.

Cashing, Barry E. Sistem Informasi Akuntansi dan Organisasi Perusahaan.
Edisi ke-3. Penerj. Ruchyat Kosasih. Jakarta: Penerbit Erlangga,
1992.

Crespi, J. dan J. Harris. “Joint Cost Allocation under the Natural Gas Act:
An Historical Review”. Journal of Extractive Industries (Summer
1983), hal 1333-1342.

DeMott, Benjamin. “Saul Bellow and the Dogmas of Possibility”. Saturday
Review, 7 Feb 1997, hal 201-203.

Duboff, Robert S. “Marketing to maximize profitability.” Journal of Business
Strategy, 13, No. 6 9Oktober 2002), 10-12.

FASB. Statement of Financial Accounting Standards No. 12. Stamford:
Financial Accounting Standards Board, 1975.

Horngren, Charles T. Cost Accounting: A Managerial Emphasis. Edisi ke-
7, Englewood Cliffs, N.J.: Printice-Hall, Inc., 1991.

Ikatan Akuntan Indonesia. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.
4. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia, 1994.

Johnson, H. Thomas. “Activity-Based Information: A Blueprint for Worldclass
Management Accounting”. Management Accounting (June
1998), hal. 34-44.
read more...

CARA MENULIS KUTIPAN DALAM KARYA ILMIAH

Pada dasarnya terdapat dua cara untuk mengutip suatu sumber, yaitu secara
langsung (asli) dan secara tidak langsung (menyadur). Kutipan langsung adalah kutipan
yang mengambil secara persis kata demi kata dari sumbernya. Sedangkan kutipan
secara tidak langsung
adalah kutipan yang sudah diubah dengan kata-kata sendiri.
Kedua jenis kutipan tersebut diperkenankan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan kutipan, yaitu:

a. Kutipan haruslah relevan dengan masalah yang sedang dibahas dan hendaknya tidak
terlampau panjang.

b. Jika penyaduran (kutipan tidak langsung) mengakibatkan perubahan arti dan
kesalapahaman, maka kutipan langsung merupakan pilihan terbaik.
Berikut adalah ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam penulisan kutipan:

Pedoman Penyusunan dan Pengujian Karya Tulis Ilmiah

a. Kutipan langsung (asli), kurang dari empat baris.
Kutipan langsung yang kurang dari empat baris ditulis sebagai bagian dari kalimat
dengan memberikan tanda kutip pembuka dan penutup. Perhatikan bahwa tanda
kutip penutup diberikan setelah titik penutup kalimat. Permulaan kutipan
menggunakan huruf capital.

Contoh:
Sementara itu, Horgren dan Sundem mendefinisikan sistem akuntansi
sebagai berikut: “An accounting system is a formal means of gathering and
communicating data to aid and coordinate collective decisions in light of
the overall goals or objectives of an organization”.2

Jika kutipan tersebut merupakan bagian dari tata bahasa, kutipan tersebut tidak
dimulai dengan huruf capital.
Contoh:
Sementara itu, Horgren dan Sundem mendefinisikan sistem akuntansi
adalah “an accounting system is a formal means of gathering and
communicating data to aid and coordinate collective decisions in light of
the overall goals or objectives of an organization”.2

b. Kutipan langsung (asli), lebih dari empat baris.
Kutipan langsung yang terdiri dari lima baris atau lebih ditulis sebagai berikut:

(1) tersendiri, tidak masuk ke dalam kalimat;

(2) menjorok kedalam setelah lima ketukan, dan jika awal kutipan tersebut adalah
awal suatu alinea, maka baris pertama kutipan dimulai pada ketukan ke-11; dan

(3) dengan jarak baris satu spasi.
Contoh:
Mengenai peranan computer dalam system informasi manajemen,
Davis dan Olson mengemukakan sebagai berikut:
Conseptually, a management information system can exist without
computers, but it is the power of the computers which make MIS feasible.
The questions is not whether computers should be used in management
information systems, but the extent to which information use should be
computerized.12
Dalam hubungan ini, Horngren dan Foster menegaskan bahwa:
Accounting systems should serve multiple decision process, and
there are different measures of cost for different purposes. The most
economically feasible approach to designing a management accounting
system is to assume some common wants for a variety of decisions and
choose cost objects for routine data accumulation in light of these wants. 12

c. Elips.
Elips adalah kutipan langsung yang tidak perlu lengkap, karena terdapat beberapa
bagian yang tidak relevan dan tidak berpengaruh jika dihilangkan.

Pedoman Penyusunan dan Pengujian Karya Tulis Ilmiah

Selain ketentuan-ketentuan umum di muka (spasi, tanda kutip, dll), ketentuan
tambahan untuk kutipan semacam ini adalah sebagai berikut:

(1) Jika bagian yang dibuang adalah bagian depan/awal, maka mulailah kutipan
tersebut dengan tiga titik. Demikian juga jika yang dihilangkan adalah bagian
tengah, berikan tiga titik sebagai pengganti bagian tengah yang dihilangkan
tersebut.

Contoh:
Basalamah mendefinisikan blok sampling sebagai “… pemilihan beberapa
pos (item) secara berurutan. Begitu pos pertama … telah dipilih maka pospos
lainnya di dalam blok tersebut akan terpilih secara otomatis”.15
Dalam hubungannya dengan rancangan sistem akuntansi ini, Horngren
dan Foster menegaskan sebagai berikut:
… there are different measures of cost for different purposes. The most
economically feasible approach to designing a management accounting
system is to assume some common wants for a variety of decisions and
choose cost objects for routine data accumulation in light of these wants.15

(2) Jika bagian yang dibuang adalah bagian belakang atau bagian akhir, maka akhiri
kutipan tersebut dengan empat titik: tiga titik pertama menunjukkan bagian yang
dibuang dan satu titik sisanya menunjukkan tanda baca penutup.
Contoh:
Plankett dan Attner mengemukakan: “Production technology is important
because it directly influences organization structure. The structure must fit
the technology ….”19

d. Kutipan dengan saduran.
Untuk kutipan yang sudah diubah dengan menggunakan kata-kata sendiri tanda kutip
tidak perlu diberikan. Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah bawa catatan kaki
tetap diberikan.

e. Penomoran
Untuk tujuan pemberian catatan kaki, setiap kutipan (baik kutipan langsung maupun
kutipan tidak langsung) harus diberi nomor secara berurutan, dengan menggunakan
angka arab. Angka ini ditempatkan di akhir kutipan dan ditulis setengah spasi di atas
baris terakhir kutipan. (Lihat juga uraian tentang catatan kaki
read more...

BAGIAN INTI KARYA ILMIAH

Bagian inti penelitian/ karya tulis ilmiah memuat hal-hal sebagai berikut :

A. BAB I PENDAHULUAN
Bab ini lazimnya merupakan penjelmaan dari proposal yang telah diajukan dan disetujui oleh pembimbing. Isi bab I ini akan menjadi cermin dari keseluruhan penelitian/ karya tulis ilmiah yang ditulis.

1.1 Latar Belakang
Berisi tentang apa saja yang menjadi latar belakang timbulnya permasahan, alasan mengapa masalah (topik) tersebut penting dan perlu diteliti.

1.2 Perumusan Masalah
Rumusan secara konkrit masalah yang ada, dalam bentuk pertanyaan.

1.3 Tujuan Penelitian
Memuat maksud dan tujuan penelitian yang tidak terlepas dari masalah yang akan diteliti.

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian seyogyanya berisi tentang manfaat penelitian bagi ilmu pengetahuan dan seyogyanya dapat dimanfaatkan bagi masyarakat.

1.5 Sistematika Penulisan
Menjelaskan mengenai tahapan penulisan penelitian dari bab ke bab.

B BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Tinjauan kepustakaan pada penulisan tesis ini merupakan landasan teori yang akan mendasari pembentukan model, pembentukan hipotesis atau pertanyaan penelitian, serta menjadi dasar pembahasan penelitian/ karya tulis ilmiah. Bab ini pada dasarnya merupakan landasan teoritis bagi siswa dalam melakukan kegiatan penelitian.

2.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya yang layak untuk ditampilkan beserta metode yang digunakan dan hasil yang dicapai dalam penelitian sebelumnya. Siswa perlu mencantumkan mi penelitian terdahulu kalau ada.

2.2 Landasan Teori
Tinjauan pustaka memuat uraian mengenai landasan teori dan landasan empiris yang mendukung pendekatan pemecahan masalah. Tingkat kedalaman dan keluasan aspek-aspek yang ditelaah bergantung pada ketajaman analisis permasalahan. Semua sumber harus mencantumkan nama penulisnya.

2.3 Kerangka Pemikiran
Adalah kerangka pemikiran yang melandasi hipotesis, sehingga penelitian dapat dilakukan secara terarah.

2.4 Hipotesis
Adalah jawaban atau dugaan sementara yang akan diuji kebenarannya dan tidak semua penelitian harus mengemukakan secara tegas suatu hipotesis.

C. BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Pada bab ini peneliti mengungkapkan landasan filosofis atau alasan logis atas pendekatan yang dipakai dalam melakukan penelitian, apakah menggunakan mainstream ataukah pendekatan alternatif. Bila pendekatan alternatif yang dipilih, peneliti harus mengungkapkan argumen dipilihnya pendekatan itu dan kesesuaiannya dengan masalah yang dihadapinya. Bab ini berisi :

3.1 Identifikasi Variabel
Memuat berapa banyak dan apa saja variabel yang diketemukan dan yang akan digunakan untuk penelitian.

3.2 Definisi Operasional Variabel
Mendefinisikan variabel variabel yang telah teridentifikasi di atas.

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Memuat populasi yang digunakan dalam penelitian dan teknik sampling yang digunakan.

3.4 Sumber dan Jenis Data
Menjelaskan bersumber dari mana data tersebut diperoleh (berupa data primer atau sekunder) dan menyebutkan jenis datanya (kualitatif atau kuantitatif).


3.5 Metode Pengumpulan Data
Memuat penjelasan mengenai teknik pengumpulan data yang biasanya dalam bentuk wawancara, dokumentasi, kuesioner dan sebagainya.

3.6 Teknik Analisis Data.
Adalah alat-alat yang digunakan dalam menguji dan menganalisa data.

3.7 Teknik pengujian Asumsi Klasik.(jika ada)
Adalah pengujian gejala-gejala dalam analisis data (biasanya dalam analisis regresi) seperti, gejala multikolinieritas, gejala heteroskedastisitas, gejala linieritas, dan gejala autokorelasi.

3.8 Pengujian Hipotesis
Pengujian terhadap hipotesis yang digunakan dengan menggunakan alat-alat statistik yang sesuai.

D. BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN
Pada bab ini peneliti harus memberikan gambaran secara jelas tetapi singkat dan padat tentang obyek atau tempat penelitian dilakukan (research site). Singkat dan padat perlu ditekankan di sini untuk menghindari penulisan gambaran tempat penelitian yang tidak relevan dengan judul tesis yang ditulis. Penjelasan terhadap obyek penelitian harus dibatasi pada materi yang berhubungan dengan penelitian.

E. BAB V HASIL PENELITIAN, ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini berisi tentang
5.1 Hasil Penelitian
Pada sub bab ini memuat semua hasil penelitian yang relevan dengan tujuan dan hipotesisnya. Penyajian hasil penelitian dapat disertai tabel grafik, foto, atau bentuk penyajian data yang lain.

5.2 Analisis Hasil Penelitian
Memuat analisis terhadap hasil penelitian. Jika digunakan analisis statistik hanya dimuat tampilan akhir yang menunjukkan hasil penelitian, sedangkan perhitungan statistik secara terperinci dimuat dalam lampiran.

5.3 Uji Hipotesis
Memuat pengujian dan pernyataan apakah hipotesis penelitian diterima atau ditolak.

5.4 Pembahasan
Sub bab ini menunjukkan tingkat penguasaan peneliti terhadap paradigma, konsep dan teori yang digunakan dengan sedapat mungkin menginterpretasikan hasil penelitian guna menggambarkan fenomena yang terjadi.

F. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Merupakan pernyataan singkat dan tepat yang dijabarkan dari hasil penelitian dan pembahasan untuk membuktikan kebenaran hipotesis.
5.2 Saran
Merupakan implikasi hasil penelitian terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan penggunaan praktis. Dapat berupa masukan-masukan untuk pemecahan masalah atau dapat pula merupakan saran bagi peneliti selanjutnya. Sebagai hasil pemikiran peneliti atas keterbatasan penelitian yang dilakukan.

G. DAFTAR PUSTAKA
Berisi daftar buku/ referensi yang sudah dipakai sebagai kajian teori dalam penelitian/ karya tulis ilmiah.

H. LAMPIRAN-LAMPIRAN
Berisi semua yang perlu disertakan/ dilampirkan sebagai pendukung penelitian.
read more...

BAGIAN AWAL KARYA ILMIAH

Siswa Kelas VIII SMP N 1 KERTOSONO, diwajibkan menulis sebuah karya tulis pada akhir masa studinya. Karya tulis ini merupakan suatu penelitian yang dilakukan untuk disusun dalam bentuk karya tulis ilmiah. Manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk melatih siswa untuk meneliti, menganalisis hasil penelitian dan menuangkannya ke dalam suatu tulisan/ karangan ilmiah. Selain itu juga bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi siswa.
Untuk menyeragamkan tatacara, teknis penulisan, maka siswa yang sudah berkewajiban menulis karya tulis wajib mengikuti tatacara penulisan. Penelitian yang dilakukan oleh siswa merupakan karya ilmiah yang :

1. Disusun sesuai dengan pedoman penulisan yang telah ditetapkan .

2. Menunjukkan kedalaman penguasaan teori, ketajaman penalaran, pembahasan, dan metode penelitian yang digunakan.

3. Menunjukkan kerangka pemikiran yang runtut, perumusan masalah yang tepat, batasan penelitian dan kesimpulan.

Guru pembimbing adalah guru yang ditunjuk untuk membimbing siswa dalam penulisan karya tulis ilmiah. Guru pembimbing bertugas untuk :
1. Memberi arah agar penulisan karya tulis ilmiah lebih terfokus pada permasalahan yang diteliti dan tidak melebar ke hal-hal yang bukan menjadi fokus penelitian.
2. Memberikan petunjuk tentang pendekatan penelitian, metode dan alat yang digunakan disesuaikan dengan sifat penelitian, misalnya penggunaan alat-alat berupa statistik dalam pengukuran atau pengujian data. Apabila peneliti menggunakan pendekatan penelitian alternatif, maka tidak ada alat statistik yang diperlukan.
3. Memberikan bimbingan agar mahasiswa mematuhi tata cara penulisan karya tulis ilmiah sesuai dengan pendoman penulisan Karya tulis
Namun demikian siswalah yang bertanggung jawab terhadap isi karya tulis ilmiah. Oleh karena itu, siswa diharapkan jujur dalam penggunaan data dan bertanggung jawab terhadap seluruh materinya .
Buku pedoman Karya tulis penulisan bertujuan memberikan pedoman bagi siswa dalam menulis karya tulis sehingga terdapat keseragaman penulisan karya tulis dan memudahkan siswa dalam menyusun penulisannya.

KERANGKA BAGIAN AWAL

Kerangka penulisan bagian awal terdiri dari :
1. Bagian Ringkasan
2. Bagian Awal

2.1 BAGIAN RINGKASAN (Abstrak)

Pada bagian ini berisi mengenai ringkasan. Ringkasan merupakan ulasan singkat mengenai permasalahan yang diangkat dalam karya tulis, hasil penelitian sampai implikasinya. Bagian ringkasan ini dicantumkan dalam daftar isi dan ditempatkan sebelum halaman daftar isi. Pada penulisan ringkasan jumlah kata yang ditulis maksimal 500 kata atau 1 halaman dengan jarak baris 1 (satu) spasi. Pada penulisan abstrak, diatas ditulis judul penelitian/ karya tulis dan nama penulis.

2.2 BAGIAN AWAL
Pada bagian awal ini terdiri dari :

A. Halaman Sampul Depan
Pada halaman ini memuat judul penelitian/ karya tulis, lambang Sekolah/ Dinas , nama penulis, nomor induk siswa. Sampul ini berwarna kuning dicetak dalam kertas tebal (hard cover).

B. Halaman Judul (Sampul Dalam)
Halaman sampul dalam sama dengan halaman sampul depan, tetapi dicetak di atas kertas HVS putih sesuai dengan ketentuan.

C. Halaman Pengesahan
Halaman ini memuat tulisan LEMBAR PENGESAHAN PENELITIAN/ KARYA TULIS, judul penelitian/ karya tulis ilmiah, nama penulis, nomor induk siswa dan tanda tangan Dosen Pembimbing, Wali kelas dan Kepala Sekolah, kalau perlu Kepala Dinas.

D. Halaman Penetapan Panitia Ujian (ini khusus untuk skripsi/ tesis)
Pada halaman ini memuat nama dari Ketua dan anggota penguji skripsi/ tesis yang ditetapkan dengan keputusan Direktur Program Pascasarjana.

E. Halaman Riwayat Hidup
Halaman ini memuat daftar riwayat hidup penulis penelitian/karya ilmiah/ skripsi/ tesis secara singkat
(Contoh halaman dapat dilihat pada lampiran 5)

F. Halaman Kata Pengantar
Pada halaman kata pengantar memuat uraian singkat mengenai maksud penyusunan penelitian/ karya tulis ilmiah, dan ucapan terima kasih kepada pihak yang berjasa pada keberhasilan penyelesaian penelitian/ karya tulis ilmiah. Pada pojok kanan bawah ditulis Nama Kota, bulan dan tahun penyusunan penelitian/ karya tulis ilmiah tersebut lalu dibawahnya ditulis nama siswa yang bersangkutan.


G. Halaman Daftar Isi
Halaman ini memuat urutan bab, sub bab, dan anak sub bab karya tulis ilmiah dengan nomor halaman.

H. Halaman Daftar Tabel
Halaman ini memuat nomor urut tabel, judul tabel dan halaman tabel yang bersangkutan.
(Contoh halaman dapat dilihat pada lampiran 8)

I. Halaman Daftar Gambar
Halaman ini memuat nomor urut gambar, judul gambar dan halaman gambar yang bersangkutan.
read more...

INTERVIEW/ WAWANCARA

a. Pengertian
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.
Dewasa ini teknik wawancara banyak dilakukan di Indonesia sebab merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam setiap survei. Tanpa wawancara penelitian akan kehilangan informasi yang hanya dapat diperoleh dengan bertanya langsung kepada responden. Seperti kita lihat atau dengan lewat teknik wawancara, televisi atau radio, merupakan teknik yang baik untuk menggali informasi di samping sekaligus berfungsi memberi penerangan kepada masyarakat.

b. Jenis Wawancara
1) Menurut prosedurnya:
a) Wawancara bebas (wawancara tak terpimpin)
b) Wawancara terpimpin.
c) Wawancara bebas terpimpin.
2) Menurut sasaran penjawabnya:
a) Wawancara perorangan.
b) Wawancara kelompok.

Ad 1) a. Wawancara Bebas
Wawancara bebas adalah proses wawancara dimana interviewer tidak sengaja mengarahkan tanya jawab pada pokok-pokok persoalan dari fokus penelitian dan interviewer (orang yang diwawancarai).
Dalam banyak hal wawancara bebas akan lebih mendekati pembicaraan bebas atau free talk, sehingga menemukan kualitas wawancara. Karenanya mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain:
(1) Kualitas datanya rendah
(2) Tak dapat digunakan untuk pengecekan secara mendalam
(3) Makan waktu terlalu lama
(4) Hanya cocok untuk penelitian eksploratif

Ad 1) b. Wawancara Terpimpin
Wawancara ini juga disebut dengan interview guide. Controlled intervew atau structureinterview, yaitu wawancara yang menggunakan panduan pokok-pokok masalah yang diteliti.
Ciri pokok wawancara terpimpin ialah bahwa pewawancara terikat oleh suatu fungsi bukan saja sebagai pengumpul data relevan dengan maksud penelitian yang telah dipersiapkan, serta ada pedoman yang memimpin jalannya tanya jawab. Dengan adanya pedoman atau panduan pokok-pokok masalah yang akan diselidiki akan memudahkan dan melancarkan jalannya wawancara.
Kelemahan wawancara terpimpin ialah bahwa:
(1) Bila pokok-pokok masalah disusun dalam daftar pertanyaan yang lebih detail, hingga menyerupai angket.
(2) Bila suasana hubungan antara pewawancara dan yang diwawancarai terlalu formal. Jadi akan tampak kaku kurang luwes.
Kebaikan wawancara terpimpin:
(1) Keseragaman pertanyaan akan memudahkan penelitian untuk membandingkan jawaban pada interview untuk diambil kesimpulan.
(2) Pemecahan problem akan lebih mudah diselesaikan.
(3) Memungkinkan analisa kuantitatif di samping kualitatif.
(4) Kesimpulannya lebih reliabel.

Ad 1) c. Wawancara Bebas Terpimpin
Adalah merupakan kombinasi antara wawancara bebas dan terpimpin. Jadi pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti, selanjutnya dalam proses wawancara berlangsung mengikuti situasi pewawancara harus pandai mengarahkan yang diwawancarai apabila ternyata ia menyimpang. Pedoman interview berfungsi sebagai pengendali jangan sampai proses wawancara kehilangan arah.



Ad 2) a. Wawancara Perorangan yaitu:
Wawancara perorangan yaitu apabila proses tanya jawab tatap muka itu berlangsung secara langsung antara pewawancara dengan seorang-seorang yang diwawancarai. Cara ini akan mendapatkan data yang lebih intensif.

Ad 2) b. Wawancara Kelompok
Wawancara kelompok apabila proses interview itu berlangsung sekaligus dua orang pewawancara atau lebih menghadapi dua orang atau lebih yang diwawancarai.
Wawancara kelompok sangat berguna sebagai alat pengumpulan data yang sekaligus difungsikan sebagai check cross check. Wawancara kelompok juga akan menjadi alat untuk mempermudah informasi yang luas dan lengkap tentang hubungan sosial dan aksi reaksi pribadi dalam hubungan sosial.

c. Peranan Wawancara
Sejalan dengan pentingnya wawancara di dalam melakukan survai, peranan pewawancara sangatlah penting. Meskipun daftar pertanyaan telah lanjut dibuat dengan sempurna oleh para peneliti, namun tetap kuncinya terletak pada para pewawancara. Kesuksesan pengumpulan data sangat tergantung pada mereka, mengingat hal-hal berikut:
1) Dapatkah menciptakan hubungan baik dengan responden, sehingga wawancara dapat berjalan lancar?
2) Dapatkah mereka menyampaikan semua pertanyaan dalam daftar pertanyaan kepada responden dengan baik dan tepat?
3) Dapatkah mereka mencatat semua jawaban lisan dari respon dengan teliti dan jelas maksudnya?
4) Apabila jawaban responden tidak jelas, dapatkah mereka menggali tambahan informasi dengan menyampaikan pertanyaan yang tepat dan netral (“Probling”)?

d. Tujuan Wawancara
Tujuan wawancara ialah untu mengumpulkan informasi dan bukannya untuk merubah ataupun mempengaruhi pendapat responden.

e. Situasi Wawancara
Perbedaan antara wawancara dengan percakapan sehari-hari adalah:
1) Pewawancara dan responden saling belum mengenal.
2) Pewawancara adalah pihak yang terus menerus bertanya, sedang responden pihak selalu menjawab pertanyaan tersebut.
3) Ada urut-urutan pertanyaan yang harus ditanyakan.
Oleh karena itu perbedaan tersebut diatas, maka:
1) Pewawancara harus dapat menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga responden merasa aman dan berkeinginan untuk memberikan informasi yang sebenarnya.
2) Pewawancara harus netral, tidak bereaksi terhadap jawaban responden, apapun yang dikatakannya. Namun demikian menunjukkan perhatian itu perlu dan dianjurkan. Yaitu dengan menganggukkan kepala ataupun ucapan “o ya”.
3) Pewawancara harus sanggup terus menerus menarik perhatian responden, selama wawancara berjalan.

f. Pedoman Wawancara
Langkah pertama dalam proses wawancara ialah membina hubungan akrab dengan responden dan menjadikan responden bersikap kooperatif.
Mendekati responden dan membina hubungan baik dengan responden untuk melaksanakan wawancara tidaklah mudah. Apabila dilihat secara sepintas, menemui seseorang untuk menanyakan tentang berbagai topik, nampaknya tidak sulit. Dalam kenyataannya komunikasi itu tidak sederhana.
Komunikasi didalam wawancara sangat rumit, karena disini berinteraksi dua kepribadian yaitu pewawancara dan responden. Kesan pertama dari penampilan pewawancara, yang pertama-tama diucapkan dan dilakukan oleh pewawancara sangatlah penting untuk menciptakan kerja sama dari pihak responden.
Berdasarkan pengalaman Michigan Survey Research Center diketahui bahwa responden lebih mengingat tentang pewawancara dan cara dia mewawancarai daripada tentang isi wawancara, karena itu segal usaha untuk bbisa mendapatkan sebutan simpatik dan sikap kooperatif dari responden sebaiknya dipahami dan dilatih dengan seksama. Dalam melaksanakan terus wawancara, pewawancara harus selalu sadar bahwa dialah pihak yang memerlukan dan bukan sebaliknya.
Pedoman untuk mencapai tujuan wawancara dengan baik, ialah:
1) Berpakaian sederhana dan rapi.
2) Sikap rendah hati.
3) Sikap hormat kepada responden.
4) Ramah dalam kata-kata dan disertai air muka yang cerah, tidak muram.
5) Sikap yang penuh pengertian terhadap responden dan netral.
6) Bersikap seolah-olah tiap responden yang kita hadapi selalu ramah dan menarik.
7) Sanggup menjadi pendengar yang baik.

g. Ciri-ciri Hubungan Baik Dalam Wawancara
Adanya hubungan baik didalam wawancara ditandai oleh:
1) Apabila responden merasakan kehangatan dan sikap simpatik dari pihak pewawancara.
2) Apabila responden merasa bebas mengutarakan perasaannya atau pandangannya.
Dengan adanya suasana wawancara seperti ini, maka responden tidak hanya merasa bebas memberikan informasi, tetapi bahkan terangsang atau berkeinginan untuk berbicara.



h. Melatih Wawancara (Asisten Lapangan)
Pada prinsipnya yang perlu diberikan selama masa latihan formal ialah:
1) Menjelaskan tujuan penelitian.
2) Menjelaskan tujuan tugas pewawancara, menekankan pentingnya peranan wawancara.
3) Menjelaskan prosedur tugas lapanga, termasuk di dalamnya disiplin, menjaga kesehatan, komunikasi yang lancar dengan sesama anggota tim, dan suoervisor, menekankan efisiensi kerja, dalam mengisi daftar pertanyaan: tulisan harus jelas, singkatan tidak diperbolehkan, mengisi laporan harian, memperhatikan norma-norma yang berlaku (cara berpakaian, tingkah laku, dan larangan-larangan lainnya).
4) Menerangkan prosedur wawancara: dari memperkenalkan diri sampai dengan meninggalkan responden.
5) Memberikan pengertian yang dalam tentang pedoman wawancara, untuk mengurangi sejauh mungkin kegagalan dalam mendekati responden.
6) Menerangkan daftar pertanyaan nomor pernomor dengan jelas, mengapa pertanyaan disusun demikian. Apa tujuan pertanyaan tertentu. Pewawancara harus mengetahui dengan tepat maksud semua pertanyaan, supaya dapat mengumpulkan informasi yang tepat dan jelas pula.
7) Menerangkan cara mencatat jawaban responden.
8) Memberikan orientasi masalah apa yang dapat timbul di lapangan dan bagaimana mengatasinya.
9) Latihan wawancara:
a) Memainkan peranan wawancara, responden, pengamat.
b) Berlatih ke lapangan dengan mencari sendiri orang yang dijadikan responden.
10) Diskusi tentang memecahkan masalah wawancara hasil latihan.

i. Menggali Informasi Lebih Dalam
Sering jawaban respoden kurang memuaskan karena bersifat masih terlalu umum, kurang spesifik. Misalnya: “Anak dapat membantu orang tua”. Membantu dalam hal apa? Ini masih sangat luas kemungkinannya. Karena itu perlu ditanyakan lebih lanjut. Inilah yang disebut menggali informasi lebih dalam atau “Probing” “Apa yang Bapak maksud dengan membantu orang tua”? Berbagai jawaban muncul:
“Anak dapat membantu keuangan”
“Anak dapat membantu pekerjaan orang tua”
“Anak dapat membantu memecahkan masalah keluarga”
Apabila jawaban responden kurang meyakinkan perlu ditambah pertanyaan. Tambahan pertanyaan ini sifatnya harus netral.
Pertanyaan yang netral itu misalnya:
“Mohon dijelaskan lagi maksud Bapak.”
“Dalam hal apa?”
“Saya belum mengerti maksudnya, dapatkah Bapak menerangkan sekali lagi?”
“Apakah dia meninggal sesudah atau sebelum ulang tahun pertama?” dan sebagainya.

j. Persiapan Sebelum Wawancara
1) Pelajari dan kuasailah questionnaire.
2) Cobakanlah questionnaire itu pada diri sendiri, untuk mengetes apakah kita tahu benar maksud pertanyaan itu. Lalu cobakan pada orang lain (kawan) untuk latihan.
3) Pikirkan jam berapa yang cocok untuk menemui responden, mengingat pekerjaan mereka.
4) Ulang-ulangilah membaca instruksi, juga selama wawancara.

k. Sikap Wawancara
1) Netral
Tugas pewawancara untuk merekam informasi tanpa menghiraukan apakah menganggap keterangan itu baik tidak baik, menjemukan, tidak menyenangkan.
Jangan merangsang atau bereaksi terhadap jawaban responden, baik dengan kata-kata maupun dengan gerakan, misalnya menyatakan setuju, tidak merendahkan. Hindarikan sugesti.
2) Adil, tidak memihak
Sopan dan hormat kepada responden. Semua responden kita perlukan sama baik, siapapun dia. Penting untuk dapat memberikan perasaan aman bagi responden untuk menyatakan pendapatnya.
3) Hindarkan ketegangan
Wawancarailah secara obrolan. Hindari kesan bahwa seolah-olah responden bercerita ke sana ke mari. Dengan sopan kita mengembalikan perhatian responden kepada pertanyaan kita.
4) Ramah
Sikap ramah sangat penting. Bermuka cerah segar, tidak malas, kesan yang kita berikan akan berpengaruh kepada responden.

l. Taktik Wawancara
1) Usahakan pada waktu wawancara hanya responden yang hadir, tidak ada anggota keluarga atau teman responden yang hadir. Pewawancara pun seyogyanya tidak membawa teman.
2) Reaksi atau jawaban pertama terhadap suatu pertanyaan itulah reponden yang sesungguhnya. Karenanya kalaupun responden berubah pendapat setelah pindah ke pertanyaan lain, janganlah dihapus jawaban pertama tadi.
3) Jangan tergesa-gesa menuliskan jawaban “tidak tahu”.
Sering responden menjawab “tidak tahu” yang sebenarnya dia sedang berpikir, karena itu tunggulah sejenak. Disini pewawancara harus sabar.
4) Pada jawaban “ya” atau “tidak”, sering responden menambahkan keterangan “ya”, kalau .....”, “ya, tetapi tidak ..... “, dalam hal ini tulislah lengkap, meskipun ini dimaksudkan jawaban tertutup.
5) Semua komentar responden tulislah lengkap. Kata-kata yang diucapkan untuk melukiskan perasaannya adalah sangat penting.
6) Jawaban responden sebelum dicatat harus dimengerti maksudnya. Kalau belum jelas tanyakan lagi. Jawaban harus khusus, jangan terlalu umum ataupun mempunyai dua arti. “Saya suka karena itu baik”, “Saya tidak suka”, “atau karena menarik.”
7) Usahakan sambil menulis tetap berbicara.
Berilah pertanyaan yang mengajak dia berpikir, jangan dibiarkan responden menanti terlalu lama, dapat menimbulkan kebosanan.
8) Selesai wawancara, periksalah questionnaire dengan teliti, untuk menjaga agar tidak ada nomor-nomor pertanyaan yang terlampaui.

m. Jawaban “Tidak Tahu”
Apabila responden menjawab pertanyaan dengan mengatakan “tidak tahu”, pewawancara perlu hati-hati. Sebaiknya pewawancara tidak lekas-lekas meninggalkan pertanyaan itu dan pindah ke pertanyaan lain. Jawab “tidak tahu” perlu mendapat perhatian, sebab dibalik jawaban itu dapat mengandung arti macam-macam, diantaranya:
a) Responden tidak begitu mengerti pertanyaan pewawancara. Untuk menghindarkan jawaban “tidak mengerti”, maka dia menjawab “tidak tahu”.
b) Responden sebenarnya sedang berpikir, tetapi karena merasa kurang tenteram kalau membiarkan pewawancara menunggu lama, maka dia mengeluarkan jawaban “tidak tahu.”
c) Sering karena responden tidak ingin diketahui pikirannya yang sesungguhnya karena dianggap terlalu pribadi, maka dia mengatakan “tidak tahu”.
Dapat juga terjadi karena responden ragu-ragu ataupun takut mengutarakan pendapatnya.
d) Responden memang betul-betul tidak tahu.
Tentu saja apabila memang responden sungguh-sungguh tidak tahu, jawaban itu dapat diterima. Namun adalah tugas pewawancara untuk mengamati responden dengan cermat. Benarkah responden tidak tahu, ataukah ada hal-hal lagi atau menambah pertanyaan untuk lebih yakin atau jawaban responden.

n. Pengendalian Mutu (Quality Control)
Mengendalikan mutu berarti mengendalikan aktivitas selama tugas lapangan, jelasnya mengendalikan tugas wawancara untuk mendapat hasil survei yang memuaskan.
Pengendalian mutu dapat dicapai dengan jelas:
1) Pengawas (supervisor) dan pewawancara terus menerus belajar selama tugas lapangan.
2) Pengawasan selalu memeriksa dengan teliti daftar pertanyaan yang telah diisi segera diterima dari pewawancara.
3) Pengawas mengkuti dengan seksama hasil kerja pewawancara dan masalah mereka masing-masing.
4) Pengawas mewawancarai responden (yang dipilih secara serampangan) yang telah diwawancarai oleh pewawancara untuk mengetahui bagaimana cara kerja mereka/ “(Spot Check”).
5) Pengawas mendorong para pewawancara untuk selalu mengkomunikasikan secepat mungkin semua masalah lapangan yang dialaminya.
6) Asisten lapangan yang dianggap kurang mampu apabila tidak bisa diperbaiki lebih baik diminta mengundurkan diri.
7) Secara teratur tim petugas lapangan mengadakan diskusi tentang masalah lapangan.
Yang paling utama dari semua ini adalah: Pengawasan memeriksa daftar pertanyaan (yang telah terisi) dengan cermat:
1) Apakah semua pertanyaan telah terisi.
2) Apakah kalimat-kalimat jawaban jelas, tidak mempunyai dua arti atau bahkan tidak ada arti sama sekali. Jawaban harus meyakinkan.
3) Tulisan harus jelas. Kalau tidak jelas pengawasan atau editor jangan menerka-nerka. Sebaiknya pewawancara yang bersangkutan ditanya apa maksudnya. Mengapa jam diskusi bersama secara teratur tentang masalah lapangan. Di dalam kesempatan berdiskusi para anggota tim akan saling belajar, makin sering pertemuan diskusi ini dilakukan makin baik.
Kesalahan dapat dipercepat diperbaiki. Bagi mereka yang belum mengalaminya, dapat menghindarinya.
Diskusi informasi pun sangat baik dilakukan dan sering sangat efektif, misalnya: pada waktu makan bersama, pada waktu makan bersama, pada waktu istirahat, dan lain sebagainya. Dikatakan efektif karena disitu suasana lebih santai dan pengalaman-pengalaman bermunculan. Meskipun selalu dianjurkan harap semua pengalaman ditulis, tetapi dalam kenyataannya sering pewawancara tidak menuliskannya. Karena itu diskusi informasi ini sangat berguna.


o. Peneliti dan Tugas Lapangan
Sebagai penutup beberapa hal dapat dipertanyakan:
1) Perlukah seseorang peneliti ilmu-ilmu sosial dalam melaksanakan penenlitiannya turut serta mengambil bagian di lapangan?
2) Cukupkah dia hanya menerima hasil tabulasi, di meja kerjanya tanpa mengetahui proses sebelumnya? Hal ini berhubungan dengan pertanyaan:
a) Sejauh mana seorang peneliti perlu menghayati datanya.
b) Sejauh mana seorang peneliti berusaha belajar dari penelitian itu sebagai keseluruhan, sehingga meningkatkan mutunya sebagai peneliti.
3) Dalam hal melatih dan membimbing asisten lapangan atau pewawancara dapatkah seorang peneliti melakukannya dengan baik tanpa pengalaman pribadi di lapangan?



Bentuk-bentuk Pertanyaan Dalam Wawancara
Bentuk-bentuk pertanyaan dalam wawancara ada dua, yaitu:
Wawancara tertutup (closed interview), dan wawancara terbuka (open interview).
1) Wawancara Tertutup
Wawancara tertutup terdiri dari pertanyaan – pertanyaan yang bentuknya sedemikian rupa sehingga kemungkinan jawaban responden maupun informan (pemberi informasi/keterangan) amat terbatas.
Misalnya: responden/informasi tinggal jawab “ya atau tidak”
2) Wawancara Terbuka
Wawancara terbuka terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang sedemikian rupa bentuknya sehingga responden/informan diberikan kebebasan menjawabnya.


Cara Bertanya
Baik wawancara yang bersifat tertutup maupun wawancara terbuka, seorang interviu di dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan haruslah jelas dan konkrit, agar responden/informan dapat memberikan jawaban-jawabannya secara tegas pula.
Untuk itu ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:1
a) Interviu seyogyanya didalam bertanya dihindari adanya kata-kata yang berwayuh arti (mempunyai dua atau lebih arti).
b) Jangan membuat pertanyaan-pertanyaan yang panjang.
c) Buatlah pertanyaan-pertanyaan yang konkret dengan petunjuk waktu dan lokasi yang konkret pula.
Misalnya: “Dimanakah saudara waktu saudara masih muda?”, tetapi bertanyalah dengan pertanyaan yang konkrit:
“Di kota manakah saudara tinggal, sewaktu masih sekolah di SMA?”
d) Sebaiknya pertanyaan diajukan dalam rangka pengalaman yang kongkrit dari responden.
Misalnya: “Apakah yang bisa bapak katakan kalau pegawai bapak datang terlambat?”. Sebaiknya pertanyaan tersebut dirumuskan sebagai berikut: “Saya mohon bapak mengingat kembali, bila pegawai bapak katakan datang terlambat, apakah yang bapak katakan kepada mereka waktu itu?”
e) Sebaiknya menyebut alternatif yang dapat diberikan oleh responden atas pertanyaan, jangan hanya menyebutkan satu alternatif saja. Misalnya: “Apakah kenaikan pangkat dalam kantor bapak berdasarkan atas hasil karya?”, pertanyaan yang sedemikian kurang tepat, karena responden akan langsung menjawab “ya” tanpa mengindahkan kasus-kasus, dimana kenaikan pangkat itu mungkin berdasarkan atas lamanya masa kerja, senioritas, hubungan baik dengan atasan dan lain sebagainya. Seyogyanya pertanyaan tersebut dirumuskan sebagai berikut: “Kenaikan pangkat di kantor Bapak biasanya berdasarkan apa?”
f) Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang membuat malu responden, dan seyogyanya kata-kata tersebut diperhalus atau dinetralisir (euphemisme).
Misalnya: “Mengajar anak”, mungkin akan lebih baik diganti dengan: “menggauli istri secara mendalam”. Malah bagi responden yang terpelajar, dapat diganti dengan kata-kata: “mendisiplin anak” (terdengar lebih netral daripada “memarahi”), “bersetubuh” diganti dengan “coitus”).
g) Bila pertanyaan itu digunakan untuk menilai orang ketiga, sebaiknya ditanyakan sifat positif maupun negatif mereka, misalnya: “Mengenai kepribadian kepala kantor saudara, sifat paakah yang paling menonjol, yang paling terasa baiknya bagi saudara, dan sifat apa pula yang kurang memuaskan bagi saudara?”
Syarat-syarat untuk bertanya secara sempurna didalam wawancara sebagaimana tersebut diatas, hanya dapat diperoleh dengan banyaklah latihan – latihan ataupun pengalaman – pengalaman, bahkan lebih cenderung pada seni.
Jadi disamping latihan, pengalaman, juga diperlukan bakat sebetulnya. Padahal jelas peranan pewawancara sangatlah menentukan dalam penelitian, karena kualitas dan kesahihan (reliability) dari data yang dikumpulkan banyak tergantung pada pewawancara. Karena itu disebutkan oleh Irawati Singarimbun tentang: pemilihan pewawancara, disamping syarat-syarat / faktor-faktor yang lain, maka faktor kepribadian dan penampilan seorang pewawancaralah yang diutakaman, yaitu kepribadian yang matang dan penampilan (appearance) yang menyenangkan atau simpati bagi orang yang dihadapinya.
read more...

Monday, February 1, 2010

MAJAS/ FIGURATIF LANGUAGE/ GAYA BAHASA

Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam Bahasa Indonesia, majas terdiri dari 4 jenis:

1. majas perbandingan

2. majas sindiran

3. majas penegasan

4. majas pertentangan



Majas perbandingan

1. Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran.

2. Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal.

3. Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan pengubung, seperti layaknya, bagaikan, dll.

4. Metafora: Pengungkapan berupa perbandingan analogis dengan menghilangkan kata seperti layaknya, bagaikan, dll.

5. Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.

6. Sinestesia: Metafora berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indra untuk dikenakan pada indra lain.

7. Antonomasia: Penggunaan sifat sebagai nama diri atau nama diri lain sebagai nama jenis.

8. Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.

9. Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.

10. Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.

11. Litotes: Ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan merendahkan diri.

12. Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

13. Personifikasi: Pengungkapan dengan menyampaikan benda mati atau tidak bernyawa sebagai manusia.

14. Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.

15. Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.

16. Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.

17. Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.

18. Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.

19. Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.

20. Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.

21. Perifrase: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.

22. Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.

23. Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.



Majas sindiran

1. Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.

2. Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.

3. Sinisme: Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi).

4. Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.

5. Innuendo: Sindiran yang bersifat mengecilkan fakta sesungguhnya.



Majas penegasan

1. Apofasis: Penegasan dengan cara seolah-olah menyangkal yang ditegaskan.

2. Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan.

3. Repetisi: Perulangan kata, frase, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.

4. Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.

5. Aliterasi: Repetisi konsonan pada awal kata secara berurutan.

6. Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frase, atau klausa yang sejajar.

7. Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.

8. Sigmatisme: Pengulangan bunyi "s" untuk efek tertentu.

9. Antanaklasis: Menggunakan perulangan kata yang sama, tetapi dengan makna yang berlainan.

10. Klimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang sederhana/kurang penting meningkat kepada hal yang kompleks/lebih penting.

11. Antiklimaks: Pemaparan pikiran atau hal secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.

12. Inversi: Menyebutkan terlebih dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.

13. Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.

14. Elipsis: Penghilangan satu atau beberapa unsur kalimat, yang dalam susunan normal unsur tersebut seharusnya ada.

15. Koreksio: Ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.

16. Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.

17. Asindeton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.

18. Interupsi: Ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.

19. Ekskalamasio: Ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.

20. Enumerasio: Ungkapan penegasan berupa penguraian bagian demi bagian suatu keseluruhan.

21. Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.

22. Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.

23. Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.

24. Silepsis: Penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.

25. Zeugma: Silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.



Majas pertentangan

1. Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.

2. Oksimoron: Paradoks dalam satu frase.

3. Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.

4. Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

5. Anakronisme: Ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

MAJAS LAINNYA:

Antanaklasis adalah salah satu majas dalam Bahasa Indonesia. Antanaklasis adalah majas yang menunjukkan pengulangan kata yang sama tetapi memiliki makna yang berbeda. Contoh:
Engkau dijual engkau dibaca

Elipsis adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. Elipsis adalah majas yang menghilangkan sebagian kata-kata atau kalimatnya. Majas tersebut sering digunakan dalam karya sastra berbentuk puisi. Contoh:
Oh...

Simile adalah salah satu majas dalam Bahasa Indonesia. Simile adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara tidak langsung. Contoh:
Engkau yang kusayangi buku

Metafora adalah salah satu majas dalam Bahasa Indonesia, dan juga berbagai bahasa lainnya.
Metafora adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung. Contoh:
Engkau belahan jantung hatiku sayangku

Paralelisme adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. Paralelisme adalah majas yang mengulang kata di setiap baris yang sama dalam satu bait. Contoh:
Kau berkertas putih
Kau bertinta hitam
Kau beratus halaman
Kau bersampul rapi

Personifikasi adalah salah satu majas dalam Bahasa Indonesia. Personifikasi adalah majas yang menganggap benda sebagai manusia. Contoh:
Saat ku melihat rembulan, dia seperti tersenyum kepadaku seakan-akan aku merayunya

Sarkasme adalah suatu majas yang dimaksudkan untuk menyindir, atau menyinggung seseorang atau sesuatu. Sarkasme dapat berupa penghinaan yang mengekspresikan rasa kesal dan marah dengan menggunakan kata-kata kasar. Majas ini dapat melukai perasaan atau hati seseorang.
Biasanya sarkasme digunakan dalam konteks humor.Contoh
• Soal semudah ini saja tidak bisa dikerjakan. Goblok kau!

Litotes adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. Litotes adalah majas yang mengungkapkan perkataan dengan rendah hati dan lemah lembut. Biasanya hal ini dicapai dengan menyangkal lawan daripada hal yang ingin diungkapkan. Contoh:
Akan kutunggu kehadiranmu di bilikku yang kumuh di desa
Wanita itu parasnya tidak jelek

Ironi adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. Ironi adalah majas yang mengungkapkan sindiran halus. Contoh:
Kota Bandung sangatlah indah dengan sampah-sampahnya

Aliterasi adalah salah satu jenis majas dalam Bahasa Indonesia. Aliterasi adalah majas yang memanfaatkan kata permulaannya sama bunyi.
Contoh:
Dengar Daku Dadaku Disapu

Pars pro toto adalah majas yang digunakan sebagian unsur untuk seluruh
Contoh
Sekolah kami memenagkan lomba fisika,padahal yang menang hanya si Andi

Asyndeton adalah majas yang mengulang kata dalam sebuah kalimat tanpa kata penghubung untuk menegaskan sesuatu yang telah dilakukan berkali - kali.
Contoh :
Berusaha, berusaha, terus berusaha, namun mana hasilnya ?

Alusio adalah majas perbandingan yang menggunakan berbagai kata kiasan, peribahasa yang sudah lazim didengar semua orang.
Contoh penggunaan :
Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya.
read more...