+(1).jpg)
^-^Karena ini hari Minggu, hari libur pekan, saya ingin ulas kejadian tadi pagi. Semoga sobat-sobat berkenan menyimaknya.
Hari Minggu merupakan rutinitas weekend untuk keluarga. Mulai aktivitas pagi setelah jamaah sholat Shubuh dilanjutkan Olah raga pagi. Biasanya kalau tidak sepeda ontel atau gl (genjot langsung) mengitari jalan-jalan persawahan, ya jalan kaki bersama keluarga –pembantu pun ikut- rutenya di jalan persawahan juga. Maklum tempat tinggal saya memang di lingkungan pedesaan yang masih banyak areal sawahnya. Namun begitu, semua jalan sudah beraspal dan tidak becek.
Di jalan persawahan yang selalu dijadikan rute sepeda pagi tidak ramai lalu lintas motor maupun roda empat, namun ramai pejalan kaki dan pesepeda pada hari Minggu. Kalau pagi dijamin udara segar dan belum terpolusi. Setelah menempuh rute yang panjang selalu kami mampir sarapan ke warung sederhana –sedia nasi pecel tumpang dan bubur campur-- yang kebersihannya terjamin juga.
Tidak apa-apakan..reflesing weekend with my family..tentunya setelah rutinitas nyaris sepekan memberi edukasi meningkatkan wawasan akademik- non akademik, akhlak, etika dan sopan santun yang tinggi supaya tidak terkikis zaman meski makin berwawasan global. Yah.. meskipun tempat secara fisik RSBI SMP N 1 KERTOSONO tidak mewah dan letaknya di pinggir Sungai Brantas, namun kalau masih berakhlah mulia, sopan, santun, beretika tinggi dan sudah tentu berwawasan dan berprestasi kan ikut senang.... Eh.. takut ngantur bab lain. Saya lanjut ya... Sambil menikmati nasi pecel tumpang dan anggota keluarga yang lain ada yang menikamati bubur campur, selalu ada canda antara kami dengan penjual warung dan pembeli lain—kebetulan pagi ini warungnya rame juga. Eh...kok jadi cerita bubur...belum mengarah ke judul... Wah...kalau tidak diluruskan nanti bisa-bisa membahas ngobrol dengan bu warung dan teman pembeli. He..he.. Sudah kenyang tambah buburnya di bungkus untuk si kecil mungkin nanti minta lagi terus perjalanan pulang gitu aja ya...
Sampai di rumah biasanya istirahat sejenak terus aktivitas bersih-bersih rumah dan sekitar. Nah...ini baru ke inti posting. Karena rumah saya mewah (mepet/ dekat sawah) dan halamannya luas terus masih belum dipaving (masih tanah) sehingga banyak semak dan ilalang, meski tidak terlalu lebat. Alat bersih-bersihnya tentu menggunakan sabit di samping sapu dan lainnya.
Tiba-tiba terdengar jeritan kesakitan.”Aduh...” jerit si Bapak (bukan jerit yang lain lho..). Saya berlari menghampiri si Bapak. Tangan bapak berdarah terkena sabit. Tiga jari-jarinya tergores, meskipun tidak sampai parah namun darah segar yang keluar lumayan banyak. Saya mencari obat luka segar di kotak obat dalam rumah, tetapi tidak ketemu. Biasanya Kotak obat selalu komplit untuk P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan), entah ketika dibutuhkan justru kali ini obat luka segar tadi justru tidak ada (tidak saya sebut merk, takut dikira iklan).
Saya kembali ke halaman menghampiri si Bapak. Lha saya terkejut luka segarnya sudah berhenti. Lho..diobati apa? Bapak Cuma tersenyum terus bercerita. Diobati daun ilalang yang masih muda. Kata bapak itu warisan nenek moyang, obat klasik untuk luka baru tapi yang tidak parah lho. Kalau parah bawa ke dokter tentunya. Juga bukan obat hati. Cara obati luka segar dengan daun/ rumput ilalang: pilih ilalang yang masih muda (pupusnya), cuci bersih (boleh tidak dicuci), haluskan (boleh dengan dikunyah), kemudian daun ilalang yang sudah halus tempelkan pada luka segar tadi. Jangan lupa baca Bismillah, insyaalloh luka segar berhenti berdarah.
Sudah, itu dulu pengalaman nyata dan bukan rekayasa. Siapa tahu suatu saat bermanfaat. Pada saat kemping atau out bond mungkin ketika tidak ada obat lain. Warisan klasik nenek moyang bisa di manfaat dari alam sekitar. Semoga bermanfaat.

.jpg)

