Online

Thursday, February 4, 2010

INTERVIEW/ WAWANCARA

a. Pengertian
Wawancara adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara lisan dalam mana dua orang atau lebih bertatap muka mendengarkan secara langsung informasi-informasi atau keterangan-keterangan.
Dewasa ini teknik wawancara banyak dilakukan di Indonesia sebab merupakan salah satu bagian yang terpenting dalam setiap survei. Tanpa wawancara penelitian akan kehilangan informasi yang hanya dapat diperoleh dengan bertanya langsung kepada responden. Seperti kita lihat atau dengan lewat teknik wawancara, televisi atau radio, merupakan teknik yang baik untuk menggali informasi di samping sekaligus berfungsi memberi penerangan kepada masyarakat.

b. Jenis Wawancara
1) Menurut prosedurnya:
a) Wawancara bebas (wawancara tak terpimpin)
b) Wawancara terpimpin.
c) Wawancara bebas terpimpin.
2) Menurut sasaran penjawabnya:
a) Wawancara perorangan.
b) Wawancara kelompok.

Ad 1) a. Wawancara Bebas
Wawancara bebas adalah proses wawancara dimana interviewer tidak sengaja mengarahkan tanya jawab pada pokok-pokok persoalan dari fokus penelitian dan interviewer (orang yang diwawancarai).
Dalam banyak hal wawancara bebas akan lebih mendekati pembicaraan bebas atau free talk, sehingga menemukan kualitas wawancara. Karenanya mempunyai kelemahan-kelemahan antara lain:
(1) Kualitas datanya rendah
(2) Tak dapat digunakan untuk pengecekan secara mendalam
(3) Makan waktu terlalu lama
(4) Hanya cocok untuk penelitian eksploratif

Ad 1) b. Wawancara Terpimpin
Wawancara ini juga disebut dengan interview guide. Controlled intervew atau structureinterview, yaitu wawancara yang menggunakan panduan pokok-pokok masalah yang diteliti.
Ciri pokok wawancara terpimpin ialah bahwa pewawancara terikat oleh suatu fungsi bukan saja sebagai pengumpul data relevan dengan maksud penelitian yang telah dipersiapkan, serta ada pedoman yang memimpin jalannya tanya jawab. Dengan adanya pedoman atau panduan pokok-pokok masalah yang akan diselidiki akan memudahkan dan melancarkan jalannya wawancara.
Kelemahan wawancara terpimpin ialah bahwa:
(1) Bila pokok-pokok masalah disusun dalam daftar pertanyaan yang lebih detail, hingga menyerupai angket.
(2) Bila suasana hubungan antara pewawancara dan yang diwawancarai terlalu formal. Jadi akan tampak kaku kurang luwes.
Kebaikan wawancara terpimpin:
(1) Keseragaman pertanyaan akan memudahkan penelitian untuk membandingkan jawaban pada interview untuk diambil kesimpulan.
(2) Pemecahan problem akan lebih mudah diselesaikan.
(3) Memungkinkan analisa kuantitatif di samping kualitatif.
(4) Kesimpulannya lebih reliabel.

Ad 1) c. Wawancara Bebas Terpimpin
Adalah merupakan kombinasi antara wawancara bebas dan terpimpin. Jadi pewawancara hanya membuat pokok-pokok masalah yang akan diteliti, selanjutnya dalam proses wawancara berlangsung mengikuti situasi pewawancara harus pandai mengarahkan yang diwawancarai apabila ternyata ia menyimpang. Pedoman interview berfungsi sebagai pengendali jangan sampai proses wawancara kehilangan arah.



Ad 2) a. Wawancara Perorangan yaitu:
Wawancara perorangan yaitu apabila proses tanya jawab tatap muka itu berlangsung secara langsung antara pewawancara dengan seorang-seorang yang diwawancarai. Cara ini akan mendapatkan data yang lebih intensif.

Ad 2) b. Wawancara Kelompok
Wawancara kelompok apabila proses interview itu berlangsung sekaligus dua orang pewawancara atau lebih menghadapi dua orang atau lebih yang diwawancarai.
Wawancara kelompok sangat berguna sebagai alat pengumpulan data yang sekaligus difungsikan sebagai check cross check. Wawancara kelompok juga akan menjadi alat untuk mempermudah informasi yang luas dan lengkap tentang hubungan sosial dan aksi reaksi pribadi dalam hubungan sosial.

c. Peranan Wawancara
Sejalan dengan pentingnya wawancara di dalam melakukan survai, peranan pewawancara sangatlah penting. Meskipun daftar pertanyaan telah lanjut dibuat dengan sempurna oleh para peneliti, namun tetap kuncinya terletak pada para pewawancara. Kesuksesan pengumpulan data sangat tergantung pada mereka, mengingat hal-hal berikut:
1) Dapatkah menciptakan hubungan baik dengan responden, sehingga wawancara dapat berjalan lancar?
2) Dapatkah mereka menyampaikan semua pertanyaan dalam daftar pertanyaan kepada responden dengan baik dan tepat?
3) Dapatkah mereka mencatat semua jawaban lisan dari respon dengan teliti dan jelas maksudnya?
4) Apabila jawaban responden tidak jelas, dapatkah mereka menggali tambahan informasi dengan menyampaikan pertanyaan yang tepat dan netral (“Probling”)?

d. Tujuan Wawancara
Tujuan wawancara ialah untu mengumpulkan informasi dan bukannya untuk merubah ataupun mempengaruhi pendapat responden.

e. Situasi Wawancara
Perbedaan antara wawancara dengan percakapan sehari-hari adalah:
1) Pewawancara dan responden saling belum mengenal.
2) Pewawancara adalah pihak yang terus menerus bertanya, sedang responden pihak selalu menjawab pertanyaan tersebut.
3) Ada urut-urutan pertanyaan yang harus ditanyakan.
Oleh karena itu perbedaan tersebut diatas, maka:
1) Pewawancara harus dapat menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga responden merasa aman dan berkeinginan untuk memberikan informasi yang sebenarnya.
2) Pewawancara harus netral, tidak bereaksi terhadap jawaban responden, apapun yang dikatakannya. Namun demikian menunjukkan perhatian itu perlu dan dianjurkan. Yaitu dengan menganggukkan kepala ataupun ucapan “o ya”.
3) Pewawancara harus sanggup terus menerus menarik perhatian responden, selama wawancara berjalan.

f. Pedoman Wawancara
Langkah pertama dalam proses wawancara ialah membina hubungan akrab dengan responden dan menjadikan responden bersikap kooperatif.
Mendekati responden dan membina hubungan baik dengan responden untuk melaksanakan wawancara tidaklah mudah. Apabila dilihat secara sepintas, menemui seseorang untuk menanyakan tentang berbagai topik, nampaknya tidak sulit. Dalam kenyataannya komunikasi itu tidak sederhana.
Komunikasi didalam wawancara sangat rumit, karena disini berinteraksi dua kepribadian yaitu pewawancara dan responden. Kesan pertama dari penampilan pewawancara, yang pertama-tama diucapkan dan dilakukan oleh pewawancara sangatlah penting untuk menciptakan kerja sama dari pihak responden.
Berdasarkan pengalaman Michigan Survey Research Center diketahui bahwa responden lebih mengingat tentang pewawancara dan cara dia mewawancarai daripada tentang isi wawancara, karena itu segal usaha untuk bbisa mendapatkan sebutan simpatik dan sikap kooperatif dari responden sebaiknya dipahami dan dilatih dengan seksama. Dalam melaksanakan terus wawancara, pewawancara harus selalu sadar bahwa dialah pihak yang memerlukan dan bukan sebaliknya.
Pedoman untuk mencapai tujuan wawancara dengan baik, ialah:
1) Berpakaian sederhana dan rapi.
2) Sikap rendah hati.
3) Sikap hormat kepada responden.
4) Ramah dalam kata-kata dan disertai air muka yang cerah, tidak muram.
5) Sikap yang penuh pengertian terhadap responden dan netral.
6) Bersikap seolah-olah tiap responden yang kita hadapi selalu ramah dan menarik.
7) Sanggup menjadi pendengar yang baik.

g. Ciri-ciri Hubungan Baik Dalam Wawancara
Adanya hubungan baik didalam wawancara ditandai oleh:
1) Apabila responden merasakan kehangatan dan sikap simpatik dari pihak pewawancara.
2) Apabila responden merasa bebas mengutarakan perasaannya atau pandangannya.
Dengan adanya suasana wawancara seperti ini, maka responden tidak hanya merasa bebas memberikan informasi, tetapi bahkan terangsang atau berkeinginan untuk berbicara.



h. Melatih Wawancara (Asisten Lapangan)
Pada prinsipnya yang perlu diberikan selama masa latihan formal ialah:
1) Menjelaskan tujuan penelitian.
2) Menjelaskan tujuan tugas pewawancara, menekankan pentingnya peranan wawancara.
3) Menjelaskan prosedur tugas lapanga, termasuk di dalamnya disiplin, menjaga kesehatan, komunikasi yang lancar dengan sesama anggota tim, dan suoervisor, menekankan efisiensi kerja, dalam mengisi daftar pertanyaan: tulisan harus jelas, singkatan tidak diperbolehkan, mengisi laporan harian, memperhatikan norma-norma yang berlaku (cara berpakaian, tingkah laku, dan larangan-larangan lainnya).
4) Menerangkan prosedur wawancara: dari memperkenalkan diri sampai dengan meninggalkan responden.
5) Memberikan pengertian yang dalam tentang pedoman wawancara, untuk mengurangi sejauh mungkin kegagalan dalam mendekati responden.
6) Menerangkan daftar pertanyaan nomor pernomor dengan jelas, mengapa pertanyaan disusun demikian. Apa tujuan pertanyaan tertentu. Pewawancara harus mengetahui dengan tepat maksud semua pertanyaan, supaya dapat mengumpulkan informasi yang tepat dan jelas pula.
7) Menerangkan cara mencatat jawaban responden.
8) Memberikan orientasi masalah apa yang dapat timbul di lapangan dan bagaimana mengatasinya.
9) Latihan wawancara:
a) Memainkan peranan wawancara, responden, pengamat.
b) Berlatih ke lapangan dengan mencari sendiri orang yang dijadikan responden.
10) Diskusi tentang memecahkan masalah wawancara hasil latihan.

i. Menggali Informasi Lebih Dalam
Sering jawaban respoden kurang memuaskan karena bersifat masih terlalu umum, kurang spesifik. Misalnya: “Anak dapat membantu orang tua”. Membantu dalam hal apa? Ini masih sangat luas kemungkinannya. Karena itu perlu ditanyakan lebih lanjut. Inilah yang disebut menggali informasi lebih dalam atau “Probing” “Apa yang Bapak maksud dengan membantu orang tua”? Berbagai jawaban muncul:
“Anak dapat membantu keuangan”
“Anak dapat membantu pekerjaan orang tua”
“Anak dapat membantu memecahkan masalah keluarga”
Apabila jawaban responden kurang meyakinkan perlu ditambah pertanyaan. Tambahan pertanyaan ini sifatnya harus netral.
Pertanyaan yang netral itu misalnya:
“Mohon dijelaskan lagi maksud Bapak.”
“Dalam hal apa?”
“Saya belum mengerti maksudnya, dapatkah Bapak menerangkan sekali lagi?”
“Apakah dia meninggal sesudah atau sebelum ulang tahun pertama?” dan sebagainya.

j. Persiapan Sebelum Wawancara
1) Pelajari dan kuasailah questionnaire.
2) Cobakanlah questionnaire itu pada diri sendiri, untuk mengetes apakah kita tahu benar maksud pertanyaan itu. Lalu cobakan pada orang lain (kawan) untuk latihan.
3) Pikirkan jam berapa yang cocok untuk menemui responden, mengingat pekerjaan mereka.
4) Ulang-ulangilah membaca instruksi, juga selama wawancara.

k. Sikap Wawancara
1) Netral
Tugas pewawancara untuk merekam informasi tanpa menghiraukan apakah menganggap keterangan itu baik tidak baik, menjemukan, tidak menyenangkan.
Jangan merangsang atau bereaksi terhadap jawaban responden, baik dengan kata-kata maupun dengan gerakan, misalnya menyatakan setuju, tidak merendahkan. Hindarikan sugesti.
2) Adil, tidak memihak
Sopan dan hormat kepada responden. Semua responden kita perlukan sama baik, siapapun dia. Penting untuk dapat memberikan perasaan aman bagi responden untuk menyatakan pendapatnya.
3) Hindarkan ketegangan
Wawancarailah secara obrolan. Hindari kesan bahwa seolah-olah responden bercerita ke sana ke mari. Dengan sopan kita mengembalikan perhatian responden kepada pertanyaan kita.
4) Ramah
Sikap ramah sangat penting. Bermuka cerah segar, tidak malas, kesan yang kita berikan akan berpengaruh kepada responden.

l. Taktik Wawancara
1) Usahakan pada waktu wawancara hanya responden yang hadir, tidak ada anggota keluarga atau teman responden yang hadir. Pewawancara pun seyogyanya tidak membawa teman.
2) Reaksi atau jawaban pertama terhadap suatu pertanyaan itulah reponden yang sesungguhnya. Karenanya kalaupun responden berubah pendapat setelah pindah ke pertanyaan lain, janganlah dihapus jawaban pertama tadi.
3) Jangan tergesa-gesa menuliskan jawaban “tidak tahu”.
Sering responden menjawab “tidak tahu” yang sebenarnya dia sedang berpikir, karena itu tunggulah sejenak. Disini pewawancara harus sabar.
4) Pada jawaban “ya” atau “tidak”, sering responden menambahkan keterangan “ya”, kalau .....”, “ya, tetapi tidak ..... “, dalam hal ini tulislah lengkap, meskipun ini dimaksudkan jawaban tertutup.
5) Semua komentar responden tulislah lengkap. Kata-kata yang diucapkan untuk melukiskan perasaannya adalah sangat penting.
6) Jawaban responden sebelum dicatat harus dimengerti maksudnya. Kalau belum jelas tanyakan lagi. Jawaban harus khusus, jangan terlalu umum ataupun mempunyai dua arti. “Saya suka karena itu baik”, “Saya tidak suka”, “atau karena menarik.”
7) Usahakan sambil menulis tetap berbicara.
Berilah pertanyaan yang mengajak dia berpikir, jangan dibiarkan responden menanti terlalu lama, dapat menimbulkan kebosanan.
8) Selesai wawancara, periksalah questionnaire dengan teliti, untuk menjaga agar tidak ada nomor-nomor pertanyaan yang terlampaui.

m. Jawaban “Tidak Tahu”
Apabila responden menjawab pertanyaan dengan mengatakan “tidak tahu”, pewawancara perlu hati-hati. Sebaiknya pewawancara tidak lekas-lekas meninggalkan pertanyaan itu dan pindah ke pertanyaan lain. Jawab “tidak tahu” perlu mendapat perhatian, sebab dibalik jawaban itu dapat mengandung arti macam-macam, diantaranya:
a) Responden tidak begitu mengerti pertanyaan pewawancara. Untuk menghindarkan jawaban “tidak mengerti”, maka dia menjawab “tidak tahu”.
b) Responden sebenarnya sedang berpikir, tetapi karena merasa kurang tenteram kalau membiarkan pewawancara menunggu lama, maka dia mengeluarkan jawaban “tidak tahu.”
c) Sering karena responden tidak ingin diketahui pikirannya yang sesungguhnya karena dianggap terlalu pribadi, maka dia mengatakan “tidak tahu”.
Dapat juga terjadi karena responden ragu-ragu ataupun takut mengutarakan pendapatnya.
d) Responden memang betul-betul tidak tahu.
Tentu saja apabila memang responden sungguh-sungguh tidak tahu, jawaban itu dapat diterima. Namun adalah tugas pewawancara untuk mengamati responden dengan cermat. Benarkah responden tidak tahu, ataukah ada hal-hal lagi atau menambah pertanyaan untuk lebih yakin atau jawaban responden.

n. Pengendalian Mutu (Quality Control)
Mengendalikan mutu berarti mengendalikan aktivitas selama tugas lapangan, jelasnya mengendalikan tugas wawancara untuk mendapat hasil survei yang memuaskan.
Pengendalian mutu dapat dicapai dengan jelas:
1) Pengawas (supervisor) dan pewawancara terus menerus belajar selama tugas lapangan.
2) Pengawasan selalu memeriksa dengan teliti daftar pertanyaan yang telah diisi segera diterima dari pewawancara.
3) Pengawas mengkuti dengan seksama hasil kerja pewawancara dan masalah mereka masing-masing.
4) Pengawas mewawancarai responden (yang dipilih secara serampangan) yang telah diwawancarai oleh pewawancara untuk mengetahui bagaimana cara kerja mereka/ “(Spot Check”).
5) Pengawas mendorong para pewawancara untuk selalu mengkomunikasikan secepat mungkin semua masalah lapangan yang dialaminya.
6) Asisten lapangan yang dianggap kurang mampu apabila tidak bisa diperbaiki lebih baik diminta mengundurkan diri.
7) Secara teratur tim petugas lapangan mengadakan diskusi tentang masalah lapangan.
Yang paling utama dari semua ini adalah: Pengawasan memeriksa daftar pertanyaan (yang telah terisi) dengan cermat:
1) Apakah semua pertanyaan telah terisi.
2) Apakah kalimat-kalimat jawaban jelas, tidak mempunyai dua arti atau bahkan tidak ada arti sama sekali. Jawaban harus meyakinkan.
3) Tulisan harus jelas. Kalau tidak jelas pengawasan atau editor jangan menerka-nerka. Sebaiknya pewawancara yang bersangkutan ditanya apa maksudnya. Mengapa jam diskusi bersama secara teratur tentang masalah lapangan. Di dalam kesempatan berdiskusi para anggota tim akan saling belajar, makin sering pertemuan diskusi ini dilakukan makin baik.
Kesalahan dapat dipercepat diperbaiki. Bagi mereka yang belum mengalaminya, dapat menghindarinya.
Diskusi informasi pun sangat baik dilakukan dan sering sangat efektif, misalnya: pada waktu makan bersama, pada waktu makan bersama, pada waktu istirahat, dan lain sebagainya. Dikatakan efektif karena disitu suasana lebih santai dan pengalaman-pengalaman bermunculan. Meskipun selalu dianjurkan harap semua pengalaman ditulis, tetapi dalam kenyataannya sering pewawancara tidak menuliskannya. Karena itu diskusi informasi ini sangat berguna.


o. Peneliti dan Tugas Lapangan
Sebagai penutup beberapa hal dapat dipertanyakan:
1) Perlukah seseorang peneliti ilmu-ilmu sosial dalam melaksanakan penenlitiannya turut serta mengambil bagian di lapangan?
2) Cukupkah dia hanya menerima hasil tabulasi, di meja kerjanya tanpa mengetahui proses sebelumnya? Hal ini berhubungan dengan pertanyaan:
a) Sejauh mana seorang peneliti perlu menghayati datanya.
b) Sejauh mana seorang peneliti berusaha belajar dari penelitian itu sebagai keseluruhan, sehingga meningkatkan mutunya sebagai peneliti.
3) Dalam hal melatih dan membimbing asisten lapangan atau pewawancara dapatkah seorang peneliti melakukannya dengan baik tanpa pengalaman pribadi di lapangan?



Bentuk-bentuk Pertanyaan Dalam Wawancara
Bentuk-bentuk pertanyaan dalam wawancara ada dua, yaitu:
Wawancara tertutup (closed interview), dan wawancara terbuka (open interview).
1) Wawancara Tertutup
Wawancara tertutup terdiri dari pertanyaan – pertanyaan yang bentuknya sedemikian rupa sehingga kemungkinan jawaban responden maupun informan (pemberi informasi/keterangan) amat terbatas.
Misalnya: responden/informasi tinggal jawab “ya atau tidak”
2) Wawancara Terbuka
Wawancara terbuka terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang sedemikian rupa bentuknya sehingga responden/informan diberikan kebebasan menjawabnya.


Cara Bertanya
Baik wawancara yang bersifat tertutup maupun wawancara terbuka, seorang interviu di dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan haruslah jelas dan konkrit, agar responden/informan dapat memberikan jawaban-jawabannya secara tegas pula.
Untuk itu ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan, sebagai berikut:1
a) Interviu seyogyanya didalam bertanya dihindari adanya kata-kata yang berwayuh arti (mempunyai dua atau lebih arti).
b) Jangan membuat pertanyaan-pertanyaan yang panjang.
c) Buatlah pertanyaan-pertanyaan yang konkret dengan petunjuk waktu dan lokasi yang konkret pula.
Misalnya: “Dimanakah saudara waktu saudara masih muda?”, tetapi bertanyalah dengan pertanyaan yang konkrit:
“Di kota manakah saudara tinggal, sewaktu masih sekolah di SMA?”
d) Sebaiknya pertanyaan diajukan dalam rangka pengalaman yang kongkrit dari responden.
Misalnya: “Apakah yang bisa bapak katakan kalau pegawai bapak datang terlambat?”. Sebaiknya pertanyaan tersebut dirumuskan sebagai berikut: “Saya mohon bapak mengingat kembali, bila pegawai bapak katakan datang terlambat, apakah yang bapak katakan kepada mereka waktu itu?”
e) Sebaiknya menyebut alternatif yang dapat diberikan oleh responden atas pertanyaan, jangan hanya menyebutkan satu alternatif saja. Misalnya: “Apakah kenaikan pangkat dalam kantor bapak berdasarkan atas hasil karya?”, pertanyaan yang sedemikian kurang tepat, karena responden akan langsung menjawab “ya” tanpa mengindahkan kasus-kasus, dimana kenaikan pangkat itu mungkin berdasarkan atas lamanya masa kerja, senioritas, hubungan baik dengan atasan dan lain sebagainya. Seyogyanya pertanyaan tersebut dirumuskan sebagai berikut: “Kenaikan pangkat di kantor Bapak biasanya berdasarkan apa?”
f) Hindarilah pertanyaan-pertanyaan yang membuat malu responden, dan seyogyanya kata-kata tersebut diperhalus atau dinetralisir (euphemisme).
Misalnya: “Mengajar anak”, mungkin akan lebih baik diganti dengan: “menggauli istri secara mendalam”. Malah bagi responden yang terpelajar, dapat diganti dengan kata-kata: “mendisiplin anak” (terdengar lebih netral daripada “memarahi”), “bersetubuh” diganti dengan “coitus”).
g) Bila pertanyaan itu digunakan untuk menilai orang ketiga, sebaiknya ditanyakan sifat positif maupun negatif mereka, misalnya: “Mengenai kepribadian kepala kantor saudara, sifat paakah yang paling menonjol, yang paling terasa baiknya bagi saudara, dan sifat apa pula yang kurang memuaskan bagi saudara?”
Syarat-syarat untuk bertanya secara sempurna didalam wawancara sebagaimana tersebut diatas, hanya dapat diperoleh dengan banyaklah latihan – latihan ataupun pengalaman – pengalaman, bahkan lebih cenderung pada seni.
Jadi disamping latihan, pengalaman, juga diperlukan bakat sebetulnya. Padahal jelas peranan pewawancara sangatlah menentukan dalam penelitian, karena kualitas dan kesahihan (reliability) dari data yang dikumpulkan banyak tergantung pada pewawancara. Karena itu disebutkan oleh Irawati Singarimbun tentang: pemilihan pewawancara, disamping syarat-syarat / faktor-faktor yang lain, maka faktor kepribadian dan penampilan seorang pewawancaralah yang diutakaman, yaitu kepribadian yang matang dan penampilan (appearance) yang menyenangkan atau simpati bagi orang yang dihadapinya.
Digg Google Bookmarks reddit Mixx StumbleUpon Technorati Yahoo! Buzz DesignFloat Delicious BlinkList Furl
Post a Comment